Robot Dengan Otak Tikus


Kevin Warwick dan Ben Whalley di University of Reading, Inggris, menggunakan sel-sel otak tikus untuk mengendalikan sebuah robot beroda sederhana. Robot biasanya dikendalikan oleh microchip yang terhubung ke papan sirkuit, tapi robot ini sangat berbeda. Sekitar 300.000 neuron tikus ditempatkan dalam sebuah wadah yang sebelumnya telah diberi nutrisi dan antibiotik serta suhu yang sesuai untuk menjaga kelangsungan hidup neuron tikus tadi. Neuron-neuron ini saling berkoneksi satu sama lain dan menghasilkan aktivitas listrik yang terhubung ke 80 elektroda. Tegangan yang dipicu oleh neuron ditampilkan dan dianalisis pada layar komputer.

Pola tegangan listrik dari otak tikus tadi digunakan untuk mengontrol robot. Dengan memberikan rangsangan pada neuron dengan sinyal listrik yang berasal dari sensor-sensor pada robot, kemudian neuron akan merespon rangsangan ini yang selanjutnya respon dari neuron digunakan robot untuk merespon.

Whalley Dimitris Xydas dan Julia Downes menghubungkan sensor ultrasonik pada robot dengan neuron. Mereka kemudian mencatat tegangan listrik pada neuron ketika sinyal dari sensor diberikan. Saat neuron memberikan sinyal respon maka sinyal ini ditangkap oleh elektroda dan digunakan robot untuk misalnya menghindari rintangan. Sebagai contoh, jika sensor ultrasonik menunjukkan "ada dinding di depan" dengan sinyal 1 volt, dan simpul tertentu pada neuron selalu menghasilkan 100-mikrovolt ketika itu terjadi, sinyal terakhir tersebut dapat digunakan untuk membuat robot mengarah kanan atau kiri untuk menghindari dinding. Hasilnya, sekitar 80% dari interaksi itu membuat robot berhasil menghindarinya.

Blog Archive